Foto Kegiatan

Katalog Naskah Dayah Tanoh Abee (Fathurahman dkk. 2010)
Katalog Naskah Dayah Tanoh Abee (Fathurahman dkk. 2010)

Kolom

Masih Perlukah Dentuman Besar dalam Pemikiran Islam?

Dalam sebuah diskusi kecil tentang pemikiran dan gerakan pembaruan Islam di Indonesia kontemporer, seorang teman peneliti di PPIM, Tasman, melontarkan kritik tiadanya kejutan-kejutan besar dan fenomenal dalam pembaruan Islam kini. Tak ada guncangan besar yang dibuat oleh gerbong pembaruan Islam seperti Paramadina, Jaringan Islam Liberal (JIL), atau Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM).

Stagnasi yang menghinggapi tubuh organisasi-organisasi reformis, terutama Muhammadiyah, Al-Irsyad, dan Persis—seperti yang diutarakan Nurcholish Madjid pada awal 1970-an—tetap bertahan hingga kini. Kelompok muda progresif memang sempat muncul dari tubuh organisasi Islam tradisionalis Nahdlatul Ulama, khususnya dari Lembaga Kajian dan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU. Namun, sekarang kebekuan dari dinamisme juga tak bisa dihindari oleh NU. Pendeknya, suasana pemikiran pembaruan Islam yang tercipta kini sungguh tenang, disertai absennya kemunculan gagasan besar.

Kritik itulah yang membuat saya teringat sebuah esai menarik berjudul ”Pemikiran Islam: Tanpa Dentuman Besar” (Prisma, Mei 1995), ditulis oleh Aswab Mahasin empat belas tahun lampau. Semangat yang diletupkan esai tersebut tak jauh berbeda dengan kegelisahan yang mengemuka dalam diskusi kecil di atas: tak adanya cetusan besar dan baru dalam pemikiran pembaruan Islam kini.

Persoalan itu dilontarkan Mahasin karena sulitnya dia menemukan Iqbal yang lain atau Abduh yang baru. Pemikiran Arkoun, Ali Shariati, al-Farouki, Hassan Hanafi, Fazlur Rahman, Husein Nasr, atau Ahmad an-Na’im memang masih diperbincangkan, tapi dalam lingkaran kecil. Itu pun tak cukup merangsang gagasan-gagasan baru. Pun, lingkaran kecil itu tak tumbuh membesar dan bergerak melebar menjadi sebuah jaringan.

Maka, Mahasin menyimpulkan, gagasan pembaruan Islam pada waktu itu terasa adem-ayem: ”suasana yang enggan mengundang cetusan gagasan yang bukan-bukan.” Gagasan pembaruan kadang masih diperbincangkan memang, ditambah dengan ribut-ribut kecil, tapi tak lama kemudian seperti berlalu begitu saja. Demikian Mahasin merefleksikan pemandangan pembaruan Islam pertengahan 1990-an itu, yang menurutnya tak hanya terjadi di Indonesia, melainkan di hampir semua negara-negara Islam.

Mahasin menyebut terserapnya gagasan baru sekadar untuk menanggapi perubahan situasi politik yang sementara sebagai faktor penting penyebab tak munculnya gagasan besar. Terbentuknya negara-bangsa pasca-kolonialisme berimbas pada menciutnya diskursus ke dalam sekapan negara-bangsa. Negara-bangsa membuat dunia Islam makin terpecah ke dalam satuan-satuan kecil, di mana masing-masing disibukkan oleh dialog dengan agendanya. Akhirnya, dentuman besar dalam pemikiran Islam pun tak tercipta.

Kondisi demikian pula yang sekarang agaknya dirasakan oleh sejumlah pihak, termasuk teman saya itu. Tak ada lagi ide-ide besar yang mengguncang dan perdebatan yang menghebohkan. Dentuman besar yang tercipta dari gagasan baru dan segar makin jauh saja dari pertarungan wacana pembaruan Islam. Tapi, benarkah demikian faktanya? Apakah ketenangan akhir-akhir ini mencerminkan kejumudan pemikiran pembaruan Islam?

Di masa lalu, era Orde Baru pernah menjadi lahan subur bagi munculnya sejumlah intelektual—di antaranya Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, M. Dawam Rahardjo, Djohan Effendi, Adi Sasono, Ahmad Syafii Maarif, Kuntowijoyo, dan M. Amien Rais—yang cukup menggebrak pemikiran pembaruan Islam. Mereka adalah contoh generasi intelektual Muslim yang bergulat dengan tantangan yang dihadapi umat pada masanya. Kehadiran mereka menerbitkan pengaruh besar bagi umat Muslim, serta memberi corak tertentu bagi pembaruan Islam di Indonesia. Maka, para intelektual tersebut merupakan dentuman besar di zamannya.

Tapi kita tak boleh lupa, bahwa gagasan mereka merupakan refleksi dari realitas yang mereka jumpai. Pemikiran besar yang mereka utarakan adalah ikhtiar memberi jawab bagi persoalan-persoalan yang dihadapi umat Islam Indonesia pada masanya. Kalaupun Muslim di negara lain merasa gagasan-gagasan itu sesuai dengan situasi yang meliputi masyarakatnya, itu adalah sebuah kebetulan belaka. Watak sosio-intelektual pemikiran menandaskan bahwa sebuah pemikiran tak lahir dari ruang hampa sejarah. Ia adalah hasil dari persinggungan dan pergulatan dengan realitas yang melingkupinya. Jauh tinggi mungkin mereka berpikir, tapi di bumi tempat mereka berpijaklah mereka berjejak.

Dalam kerangka itu pula kita bisa memahami hentakan Ulil Abshar-Abdalla melalui “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam” (Kompas, 18 November 2002)—tulisan-tulisan yang menyertai kontroversi artikel tersebut kemudian dihimpun dalam Islam Liberal dan Fundamental: Sebuah Pertarungan Wacana (2003). Kritik Ulil, dengan mempertimbangkan basis sosio-intelektual di atas, tentu saja berangkat dan ditujukan kepada masyarakat Muslim Indonesia. Meski, tak bisa dinafikan bahwa boleh jadi gagasan-gagasan Ulil berkesesuaian dengan persoalan dunia Islam secara global. Yang jelas, pemikiran Ulil tersebut adalah sebuah dentuman besar di masanya.

Persoalannya, apakah sebatas itu sebuah pemikiran bisa disebut dentuman besar: gaungnya yang keras serta mengundang kontroversi dan perdebatan? Ihsan Ali-Fauzi, dalam diskusi serupa di waktu lain, justru mempertanyakan yang dimaksud dengan dentuman besar itu. Ia menunjuk kerja ilmuwan: merumuskan persoalan, membangun teori, menguji paradigma, atau bahkan membaca gerak sejarah; sebuah kerja yang absen dari hiruk-pikuk dan kontroversi sebagai juga dentuman besar.

Tapi, dengan itu sejumlah karya penting dilahirkan. Di sini kita bisa menyebut sejumlah contoh: Pemikiran dan Aksi Islam Indonesia: Sebuah Kajian Politik Tentang Cendekiawan Muslim Orde Baru (1995) karya M. Syafi’i Anwar, Islam dan Negara: Transformasi Pemikiran dan Praktik Politik Islam di Indonesia (1998) karya Bahtiar Effendy, Inteligensia Muslim dan Kuasa: Genealogi Inteligensia Muslim Indonesia Abad ke-20 (2005) karya Yudi Latif, Muslim Demokrat (2007) karya Saiful Mujani, Laskar Jihad: Islam, Militansi, dan Pencarian Identitas di Indonesia Pasca-Orde Baru (2008) karya Noorhaidi Hasan. Apakah karya-karya itu bukan dentuman besar?  

Akan bermasalah memang jika menyebut dan mengaitkan dentuman besar hanya pada pemikiran teologi, pun dengan kriteria bahwa gagasan itu mengundang kontroversi dan perdebatan. Justru dengan melihat karya-karya intelektual-akademis seperti di atas, kriteria sempit dentuman besar nyata-nyata sudah tak lagi relevan. Banyak intelektual yang memilih jalan sunyi dan “mendaki” demi menelurkan pemikiran genuine dan brilian: menjelaskan persoalan umat dan gerak sejarah secara akademis, ilmiah, dan dapat dipertanggungjawabkan. Meski dengan resiko namanya akan jauh dari popularitas.

Dentuman besar, dalam artian cetusan gagasan yang bukan-bukan, baru, dan mengguncang, mungkin masih diperlukan. Setidaknya untuk mengundang perdebatan dan merangsang pertarungan wacana. Tapi, dentuman besar yang sebenarnya, yang lahir dari kerja intelektual yang sungguh-sungguh, serta berdasarkan ilmu dan penelitian empiris, tak kalah pentingnya. Karena berdasarkan karya-karya tersebut, pembaruan Islam bisa dirumuskan secara lebih baik. Persoalan-persoalan besar yang menghambat laju kemajuan umat bisa dipecahkan, dan perubahan-perubahan penting bisa diciptakan. (Testriono)